05
Feb
07

Dear Florine (surat 2)

Dear Florine

Semoga damai dan cinta yang meraja.

Mungkin perang adalah satu-satunya cara untuk menghentikan “kegilaan” kekuasan despotic Saddam Husein dan kroninya. Mungkin Amerika memang tepat. Mungkin Bush memang patut diacungi Jempol. Mungkin memang ini “caranya”.

Tapi. Mungkin itu semua. Juga sebuah rekayasa besar.

Banyak hal didunia ini sangat tidak adil. Sangat-sangat tidak adil.

Kita mungkin mengerti banyak teori tentang resistensi imperialisme. Tapi apakah itu berarti dunia ini berhenti dari imperialisme. Dan apakah juga berarti imperialisme sekarang ini memang sebuah imperialisme melawan terorisme.—paling tidak mungkin mata manusia sedunia ini jadi berlaga naïf. Dan tutup telinga.

Bagaimana mungkin menjelaskan terorisme bisa ada dengan penjelasan variable yang tunggal. Bahwa manusia didunia ini terbagi dengan dua ciri penting satu orang baik dan satunya teroris ?. bahkan Lomroso pun mungkin tidak berpandangan sedemikian picik (Mahzab klasik Kriminologi—seorang penjahat memiliki ciri khusus)  adakah terbersit bahwa orang menjadi teroris karena ; ayahnya, ibunya, mati di Bom, sehingga wajah dan bentuk tulangnya tak lagi ditemukan. Ataupun istri dan anak-anaknya terpanggang hidup-hidup dalam sebuah mobil yang ditumpangi. Ketika sebuah pesawat jet. Melintas melepaskankan rudal. Suatu hari mungkin kitapun akan jadi orang tua. Coba bayangin anak anda berlari bermain ditaman. Dan sebuah mobil tiba-tiba melintas dengan kecepatan yang sangat tinggi, sementara pengemudinya mabuk. Tepat saat itu bolanya terlepar ke jalan. Detik berikutnya anak anda mungkin telah terpental jauh dengan tubuh yang tak lagi berbentuk. Karena remuk.

Pernahkan kita terpikir orang menjadi penggangu, karena hidup dan kehidupannya telah digerus. Mungkin oleh mesin-mesin penggerus yang tidak tertandingi. Mesin hegemoni yang tidak bisa terlawan.

Ali. (dicuplik dari TV al-jazeera). Seorang anak bocah 9 tahun. Di Irak

sana

mungkin tidak mengerti untuk apa dia menangis. Mungkin ia hanya menangis akan kesakitan ditubuhnya, yang sementara ini dia tahu bahwa, kedua tangan dan kakinya telah diamputasi dokter. Dia mungkin tidak menyadari kepedihan yang sebentar lagi di ketahuinya. Bahwa hanya dia satu-satunya yang selamat. Karena mobil mereka sekeluarga hangus terkena Bom, ketika

kota

Basra

di gempur habis-habisan.

Bayangkan hidup tanpa ada lagi instrumen dirinya. Ditambah lagi orang-orang yang dikasihinya telah pergi. Ali mungkin hanya menangis karena dia tahu bahwa dia tidak lagi bisa bermain bola dengan kawan-kawannya. Tapi jelas dia tidak menyadari. Ketika dia akan hidup lepas dari perawatan siapa yang akan menyuapinya makanan ? siapa yang akan mengajarkannya ? dan dan siapa yang akan menuntunnya untuk buang air dan mandi ? Kualitas hidupnya akan turun. Mungkin paling lama hanya bertahan setahun, setelah itu dia sakit-sakitan dan mungkin tidak lama lagi dia akan menyusul orang-orang yang telah mendahuluinya. Dan berkumpul dialam

sana

. Tempat semua makhluk kembali. Tuhan yang maha Adil dan maha Tahu.

Flo.

Tentu setiap pertikaian juga, tidak mungkin lepas dari berbagai hal dari perbedaan, perbedaan ras, perbedaan keyakinan, perbedaan agama. Perbedaan perdapat bahkan perbedaan pendapatan. Ia terbentang dari hal-hal yang esensial dan ideologis hingga pada hal yang sangat remeh dan temeh.

Flo.

Saya seorang muslim. Dan apa yang saya yakini, ketika Tuhan berkehendak menciptakan dunia. Dengan kerentanan perbedaan. Memang disatu sisi akan menimbulkan konflik. Tapi, Tuhan sendiri yang menjelaskan bahwa. Kita diciptakan berbeda-beda, suku, kelompok, ras, budaya. Dsb adalah untuk saling mengenal dan memperkaya. Karenanya harus berbeda. Harus berbeda. Justru untuk memanifestasikan nama Tuhan itu sendiri. MAHA BESAR.MAHA

ADA

. MAHA EKSIST. Omni Present.

Adalah Tuhan yang sama yang menciptakan Alam semesta. Tuhan yang sama yang menciptakan bangsa Tionghoa, Melayu, Aria, Yahudi, Mongol, Negro, Arab,

Hindustan

, Afronesia. Jelas Tuhan yang sama yang menciptakan, orang Sunda, Maluku,

Moro

,

Ethiopia

,

Bosnia

. Lagi-lagi itu semua untuk memanifestasikan nama Tuhan. MAHA PENCIPTA.

Dan jelas Tuhan yang sama yang menciptakan segala zat, baik yang berguna bagi kehidupan maupun zat yang merusak kehidupan. Tuhan yang sama yang menciptakan orang Yahudi, Kristen, Katolik, Islam, Shinto, Budha, Hindu, dan beragam keyakinan lainnya. Sebab kita masih ada disini. Dialam semesta yang sama. Yang diciptakan oleh “Sesuatu” yang Maha Kekal. Adalah Tuhan yang sama.

Mana mungkin Tuhan, memihak pada satu kelompok, satu warna kulit, satu keyakinan. Satu gender, satu tempat, satu agama,. Yang paling mungkin adalah klaim kebenaran, propaganda subyektif, dan klaim pembenaran sehingga kebenaran bisa didekonstruksi. Sebab, mana mungkin itu bisa tidak terjadi jika kita lihat, satu ras lebih merasa besar atas ras lain. Bahwa perbudakkan kulit hitam bisa terjadi, mungkin karena orang kulit putih mengangap Tuhan adalah “sewarna” dengan mereka sehingga yang tidak sewarna, jelas bukan bagain dari Tuhan. Entah bagian dari Setan atau apapun sejenisnya. Sehingga patut direndahkan.

Ini jelas tidak benar. Bukankah kita segera akan befikir bahwa  Tuhan jelas Tidak Adil. Karena dia sudah memihak pada sesuatu. Dan apakah merasa lebih besar karena merasa bahwa Tuhan, mungkin memiliki kesamaan seks mereka. Apakah ini adil. Ataukah kita berpikir bahwa, ya inilah keadilan yang memang menjadi sifat dari zat Tuhan. Lalu kemanakah manifestasi nama Tuhan yang MAHA ADIL itu.

Apa yang saya yakini, jelas bertolak belakang. Karena Tuhan sedianya, dan esensinya adalah sesuatu yang tidak memiliki kecenderungan. Yang memiliki kecenderungan itu kita. Kita. Manusia. Makhluk. Ciptakan Tuhan. Itu yang memiliki kecenderungan. Karena manusia, memiliki kecondongan. Kita lebih condong pada suka pada sesuatu jenis, karena saya laki-laki normal, jelas saya condong pada wanita. Karenanya saya memiliki kecondongan lebih menyukai wanita. Mungkin jenis-jenis tertentu. Atau begitu juga sebaliknya.

Flo.

Jujur. Terkadang sebuah pertikaian juga terlacak dari alam pikiran bawah sadar kita. Bahwa kita memang memiliki kecondongan. Lebih spesifiknya mungkin  alam bawah sadar kita memang cenderung untuk bersifat sangat subyektif.

Karen Amstrongs. Dalam sebuah bukunya “The Battle in The Name of God” (sory gue lupa—judul tepatnya.). konflik yang terjadi dalam konteks perang dengan dilandasi keyakinan memang bukan sesuatu yang baru, dan ini memang merupakan fenomena sejarah religiusitas. Agama yang menjadi inspirasi atas perdamaian dan berfungsi memberikan keselamatan dan kedamaian. Terkadang justru menjadi legitimasi atas konflik dan peperangan.

Sebelum menyerang Irak, Bush mensitir ayat dari bible, sedangkan Saddam pada saat yang sama, menyerukan jihad melawan orang kafir diseluruh negerinya. Klaim-klaim ini jelas merupakan pembenaran dan masih sangat debatable kebenarannya. Karena sebuah excused yang sangat instan yang dibutuhkan maka suatu sentimen yang bersifat ortodoks. Menjadi sesuatu yang mudah untuk membangkitkan perlawanan. Karena mudah dan murah untuk membangkitkan kebencian dengan alasan perbedaan2 yang memang sudah ada dan penuh trauma.

Meski demikian pernyataan Bush dan Saddam Jelas, sebuah pernyataan yang jujur, sekaligus memberikan gambaran bahwa memang ‘masih ada’. Memang masih ada “trauma” itu. Hingga Paus sendiri mengkhawatirkan dampak perang yang akan meluas. Sebab, memang masih terlalu dekat dengan “trauma” perang salib. Paus mungkin sangat mengerti mengenai, perasaan atas penderitaan dan sakitnya kehancuran yang dialami peradaban Islam, karena perang Salib.

Dan tepat di tempat yang sama.

Baghdad

. Ketika kekhalifahan ummayah. Di rampok habis-habisan. Ilmu pengetahuan, harta, dan harga diri, dipermalukan secara tidak manusiawi. Perang didengungkan oleh Paus yang pada saat itu, untuk membela nama Tuhan.(Gospel) Meski pada kenyataannya, tidak jauh dari Gold dan Glory. Dan sejarah sendiri yang membuktikannya.

Dan tepat ditempat yang sama,

Baghdad

. Dan sejarah (mungkin) sepertinya akan berulang.

Tidak jauh dari Irak. Di Qatar. Pada saat masih berlangsungnya invasi Amerika ke Irak Raja

Qatar

mengundang para ulama dan petinggi agama-agama di negeri itu. Dan mendiskusikan. Bahwa Perang ini sadar-ataupun tidak sadar. Disengaja maupun tidak. Jelas masih memiliki kaitannya dengan agama. Karena jika kita bicara jujur. Mungkin jangan-jangan kita memang masih menyimpan memori kolektif yang sama. Dengan motif yang sedikit berbeda.

Ketika Bush menyebut. Poros Setan. Mungkinkah kita akan menyebut

Pyongyang

yang dimaksud, atau

Beijing

. Jelas bukan, sebab. Lagi-lagi ini seperti mendefinisikan teologi yang sebanding ketika menyebut orang Negro sebagai “Setan”. Karenanya patut direndahkan dan diperbudak.

Robinson Crusoe, merupakan sebuah epic, yang secara tidak sadar mewarnai teologi saat abad 15-18. Cerita ketika dia terdampar di perairan

Polynesia

. Dan mendapati teman seorang Negro. Tentu yang dia maksud “Setan” karena temannya berkulit hitam. Berwajah sangar. Dan bertuhan Buaya. Sedangkan Robinson Crusoe, menggambarkan Tuhannya persis seperti dirinya. Berkulit putih dan tentu saja rupawan.

Ketika Temannya mengatakan yang disembahnya adalah yang Maha Kuat, maha tidak tertandingi, maha ada, maha tersembunyi dan menunjuk simbolisasinya adalah Buaya. Maka praktis lengkap sudah gambaran Setan itu. Dan Setan pada masa kini. Mudah kita tebak. Teroris.

Teroris, lepas dari berbagai definisinya. Dengan berbagai mesin propaganda. Taliban, Al-Qa’eida, Mujahidin, Intifada dsb, sederet nama-nama perwakilan teroris. Tuduhan ini sangat tendensius pada orang yang berkeyakinan kaku. Dan tentu kata kuncinya adalah. Tidak tunduk pada hegemoni Amerika. Mungkin lebih bertendensi lagi lebih tepatnya peradaban Islam.  Karena dalam setiap aksinya yang bisa anda lihat dalam film Amerika selalu memakai idiom Allahu Akbar. (Tuhan Maha Besar)

Kekalahan Amerika di tanah

Iran

dengan tergulingnya Syah Reza Pahlevi. Dan kemudian

Iran

di pegang oleh Ayatullah Khomaini. Sang pemimpin Syiah. Tentu menjadi trauma besar Amerika. Karena kurang apa sang Syah yang tatkala itu mendapat dukungan habis Amerika. Karena kepentingan minyak Amerika sangat bergantung dari siapa yang memimpin negara-negara Timur Tengah. Saddam, tentu kita tidak perlu perdebatkan lagi.

Ini jelas tidak adil. Kita mungkin lupa dengan

Bosnia

. Yang di bunuh adalah anak-anak, wanita dan mereka yang jauh dari warna militer. (Seandainya anda pernah menonton film dokumenter

Bosnia

. Anda bukan sedang melihat pembantaian manusia, melainkan pembantaian binatang—karena murahnya harga kepala manusia) Lalu apa sebutan untuk orang yang melakukan pembantaian ratusan, bahkan jutaan orang ini. Tidak ada.

Osama Bin ladin tiba-tiba menjadi pahlawan Islam dan perwakilan perjuangan Islam karena telah menghancurkan WTC. Dan yang melakukan ini adalah Teroris. Dan teroris adalah Setan. Bayangkan pada hari yang sama, CNN menayangkan. Ribuan orang di Palestina bersorak riang. Karena peristiwa ini sepertinya peristiwa yang telah ditunggu-tunggu seluruh Muslim diseluruh dunia. Karena yang berteriak riang berciri arab, jilbab, dan tentu maksudnya Islam. Meski berita tersebut ternyata dikoreksi oleh sesama pers Amerika sendiri dengan menyampaikan ralat. Dan dijelaskan bahwa hal tersebut berita sekian tahun silam. Apa yang ada di benak anda jika anda adalah orang Amerika, dan sedang melihat ribuan orang mati. Dan sebuah gedung jatuh. Dan pada saat bersamaan orang lain berteriak kegirangan. ? Sudah tentu anda marah. Dan sudah tentu anda dendam. Dan sudah tentu anda setuju pihak tersebut harus di hancurkan.

Flo. Buat kami seorang muslim, peristiwa kematian merupakan sesuatu yang sangat sacral dan sakit sangat sakit. Nabi kita menggambarkan bahwa kematian seorang manusia. Serasa di cincang 300 kali. Karena ini adalah peristiwa. Say good bye antara  ruh dengan jasad. Dan ketika nabi Muhammad sendiri mati. Dia berdoa, dia meminta semoga kepedihan sakratul maut umatnya di timpakan kepada dirinya, sehingga seorang muslim bisa sekarat dengan tidak merasakan kepedihan. Bayangkan. Sangat jauh dari senyum dan bayangan sumpah serapah.

Peristiwa penayangan ini justru lagi-lagi menyibakkan suatu teologi yang sangat aneh bahwa, orang yang menayangkannya dan orang yang percaya akan penayangannya jelas memiliki sumpah serapah ketika seorang muslim mati karena di cincang, dibakar, di sembelih, dibom, ditembak. Patut untuk disumpah serapahi. Sehingga

Bosnia

,

Iran

,

Irak

,

Afghanistan

. Mungkin juga perang salib. Dsb.

Flo, Tulisan ini, merefleksikan sebuah tangisan dari kebengisan. Kepedihan dan kesedihan yang dialami orang-orang yang tertindas dan dilindas. Saya mungkin memang bukan seorang muslim yang fanatik. Karena setiap kali ditanya seorang teman pasti saya jawab. Saya seorang Ateis.

Hanya ketika saya ketakutan, sendirian dan takut mati saya melenguh sebuah nama. Allah. Selain membaca Qur’an saya juga membaca Bible. Yang juga sebagian saya imani. Karena perjanjian lama tentu berisi kitab Taurat dan Enuma Elis.(pesan-pesan kitab kuno–Zabur) serta Injil sendiri.

Seperti kata Karen Amstrong dalam History of God. 4000 tahun lalu ketika itu agama memang tidak ada. (karena agama yang ada sekarang pun hanyalah sebuah identitas) Yang ada hanyalah keyakinan tentang Tuhan dan persepsi manusia tentang Tuhan. “……Pada mulanya, manusia hanya menciptakan satu Tuhan yang merupakan Penyebab Pertama bagi segala sesuatu dan Penguasa Langit dan Bumi.dia tidak terwakili oleh gambaran apapun dan tidak memiliki kuil atau pendeta yang mengabdi kepadaNya. Dia terlalu luhur bagi ibadah manusia yang tidak memadai. Perlahan ia memudar dari kesadaran umatnya. Dia telah menjadi begitu jauh. Sehingga mereka memutuskan bahwa mereka tidak lagi menginginkannya. Pada akhirnya dia dikatakan telah menghilang…”

Dan terus terang saat ini, adalah saat ketakutan itu. Perang mungkin telah didekler telah usai. Tapi masalahnya memang bukan terletak pada perang. Peristiwa-peristiwa yang menyudutkan kelompok dan keyakinan tertentu tentu tidak akan selesai diberantas dengan Perang. Karena ia tersimpan di kepala. Dan menunggu suatu saat peluang-peluang  tersebut meledak. Dan setiap ledakannya tentu menimbulkan trauma-trauma baru.

Flo. Maaf sekiranya

surat

ini terkesan protes. Tapi memang sebuah protes dari sebuah konstatasi dunia yang semakin condong. Mungkin memang karena kita manusia. Dan karena keterbatasan wawasan kita mungkin hanya mengenal dunia sekeliling kita, beruntung orang kayak kamu yang bisa melancong dan melihat banyak hal di negeri orang.

Seperti juga orang tua saya yang baru pulang beribadah Haji mereka melihat banyak manusia yang berbeda jenis dan ragamnya dan mereka mendapatkan oleh-oleh atas visi dan wawasan baru. Dan terutama haji juga adalah tradisi Ibrahimi. (nabi Abraham) bapak bangsa agama Yahudi, Kristen dan Islam. Hanya lebih condong kepada anaknya Ismail. Mungkin versi lain seperti halnya juga Yahudi dan Kristen adalah versi anaknya Ibrahim Ishak. Toh karenanya keyakinan Kristen dan Islam memang masih bersaudara.

Semoga kamu Tetap Sehat Walafiat. Amin

Kalau kamu yang bertanya saya agamanya apa. Pasti saya akan jawab Ateis. Juga. Karena saya memang juga jarang melakukan ritual agama saya. Saya hanya percaya bahwa Tuhan itu memang ada.

Wassalam.(Shalom).

Om

Swasiastu__

Bookmark and Share



0 Responses to “Dear Florine (surat 2)”


  1. No Comments

Leave a Reply